Nasional
Sekretaris Jenderal PBB Terkejut oleh Serangan Besar-besaran Israel di Gaza
Kecaman internasional yang menonjol mengikuti serangan udara Israel yang menghancurkan di Gaza, membuat banyak orang bertanya-tanya bagaimana dunia akan menanggapi krisis yang semakin memburuk ini.

Dalam refleksi yang tajam terhadap kekerasan yang terus berlanjut, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan rasa terkejutnya yang mendalam atas serangan udara Israel baru-baru ini di Gaza, yang menewaskan setidaknya 413 orang. Peristiwa tragis ini menandai insiden paling mematikan sejak gencatan senjata pada Januari 2025, menunjukkan sifat perdamaian yang tidak stabil di kawasan tersebut.
Saat kita menganalisis respons internasional terhadap krisis ini, terlihat jelas bahwa implikasi kemanusiaannya sangat serius, memanggil perhatian dan tindakan yang mendesak. Guterres menekankan kebutuhan kritis untuk mematuhi gencatan senjata, yang ia percayai penting untuk memastikan akses bantuan kemanusiaan. Pernyataannya menggema dengan kekhawatiran yang berkembang mengenai krisis kemanusiaan yang dihadapi warga sipil Palestina di tengah meningkatnya kekerasan.
Menurut Rolando Gomez, juru bicara PBB, sentimen Guterres jelas selama konferensi pers baru-baru ini; ia meminta perlindungan terhadap warga sipil di zona konflik, menguatkan bahwa hukum internasional harus dipatuhi untuk mencegah lebih banyak lagi kehilangan nyawa.
Komunitas internasional telah bereaksi dengan campuran kecaman dan seruan untuk akuntabilitas. Banyak negara menyatakan kekecewaan mereka terhadap situasi tersebut, mendesak baik Israel dan otoritas Palestina untuk memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan warga sipil. Kurangnya akses kemanusiaan yang konsisten memperburuk kondisi yang sudah parah di Gaza, di mana kebutuhan dasar semakin langka.
Saat kita mempertimbangkan respons internasional, kita harus bertanya pada diri kita sendiri tindakan apa yang dapat diambil untuk meringankan penderitaan mereka yang terjebak dalam baku tembak. Selain itu, tindakan militer yang berlangsung telah menimbulkan masalah hukum internasional dan kemanusiaan yang signifikan.
Kecaman PBB terhadap serangan ini menyoroti kebutuhan untuk mematuhi hukum internasional, khususnya perlindungan terhadap non-kombatan. Kita berada di persimpangan kritis di mana suara yang mendukung hak asasi manusia dan kebebasan harus diperkuat.
Komunitas internasional tidak bisa tetap pasif saat krisis kemanusiaan terbentang di depan mata kita. Saat kita merenungkan peristiwa ini, jelas bahwa tanggung jawab kolektif kita terletak pada advokasi perdamaian dan keadilan.
Urgensi situasi di Gaza menuntut kita untuk meminta pertanggungjawaban semua pihak atas tindakan mereka. Kita harus bersatu mendukung prinsip-prinsip kemanusiaan, memastikan suara mereka yang terkena dampak konflik ini didengar dan diprioritaskan.
Sekarang lebih dari sebelumnya, kita harus berkomitmen untuk mencari solusi yang menghormati hak asasi manusia dan menumbuhkan perdamaian yang berkelanjutan.
-
Politik10 jam ago
Didit Menjadi Jembatan bagi Prabowo untuk Mendekati Megawati, namun Sulit Karena Jokowi
-
Bisnis9 jam ago
Layanan Kurir Shopee Berhenti, Berikut Dampaknya pada J&T Express
-
Nasional10 jam ago
Parkir Liar Masih Merajalela di Bandung Selama Liburan Idul Fitri
-
Hiburan Masyarakat10 jam ago
‘Bandros’ Menjadi Pilihan Utama bagi Wisatawan Luar Kota untuk Menikmati Keindahan Bandung Selama Liburan Idul Fitri
-
Nasional10 jam ago
Penyintas Ajaib, Pria Diselamatkan Setelah 5 Hari Terkubur dalam Puing Gempa Bumi Myanmar